Di abad ke-19, ada sejumlah upaya untuk memutakhirkan logika (George Boyle, Ernst Schröder, Gotlob Frege, Bertrand Russell dan A. N. Whitehead). Tapi, selain memperkenalkan simbol-simbol, dan beberapa penataan di sana-sini, tidak terdapat perubahan yang mendasar di sini. Banyak klaim besar yang dibuat, contohnya oleh para filsuf linguistik, tapi tidak terdapat banyak basis untuk mereka. Semantik (yang berurusan dengan kesahihan sebuah argumen) dipisahkan dari sintaksis (yang berurusan dengan apakah sebuah kesimpulan dapat ditarik dari aksiom dan premis tertentu). Ini dianggap sebagai sesuatu yang baru, padahal hanya merupakan pernyataan ulang dari pembagian kuno, yang telah akrab bagi orang-orang Yunani Kuno, antara logika dan retorika. Logika modern didasarkan pada hubungan logis di antara seluruh kalimat.

Pusat perhatiannya telah bergeser dari silogisme menuju argumen-argumen yang hipotetikal dan disjungtif. Ini bukanlah satu lompatan yang dapat membuat orang yang melihat menahan nafas. Kita dapat mulai dengan kalimat (penilaian) bukannya silogisme. Hegel melakukan ini dalam Logic. Bukannya sebuah revolusi besar dalam pemikiran, ia malah lebih mirip mengocok ulang satu tumpukan kartu yang telah kusut karena dipakai berkali-kali.

Dengan menggunakan analogi fisika yang superfisial dan tidak tepat, apa yang disebut "metode atomik" yang dikembangkan oleh Russell dan Wittgenstein (dan yang kemudian disangkal sendiri oleh orang yang disebut terakhir itu) mencoba membagi bahasa menjadi "atom-atomnya". Atom dasar dari bahasa menurutnya adalah kalimat sederhana, yang merupakan penyusun dari kalimat-kalimat kompleks. Wittgenstein bermimpi mengembangkan satu "bahasa formal" untuk tiap ilmu pengetahuan - fisika, biologi, bahkan psikologi. Kalimat-kalimat ditempatkan pada "uji kebenaran" yang berdasarkan hukum-hukum usang tentang identitas, kontradiksi dan tanpa-antara. Dalam kenyataannya, metode dasar yang digunakan masih tetap sama saja. "Nilai Kebenaran" adalah satu masalah "atau ini ... atau itu"[1], masalah "Ya atau Tidak", masalah "benar atau salah". Logika baru ini dirujuk sebagai kalkulus proposional. Tapi kenyataannya sistem ini bahkan tidak mampu menangani argumen-argumen yang sebelumnya dapat ditangani oleh silogisme yang paling dasar (kategorikal). Sang Gunung telah melahirkan seekor tikus.

Kenyataannya adalah bahwa bahkan kalimat sederhanapun tidak dapat dipahami, sekalipun ia dianggap sebagai "batu penyusun materi" linguistik. Bahkan penilaian yang paling sederhana, seperti yang ditunjukkan Hegel, mengandung pula kontradiksi. "Caesar adalah seorang manusia", "Fido adalah seekor anjing", "pohon itu hijau", semua menyatakan bahwa yang khusus adalah sama dengan yang umum. Kalimat itu nampaknya sederhana, sebenarnya tidak. Ini adalah tutup buku bagi logika formal, yang terus saja berkeras untuk mengabaikan semua kontradiksi, bukan hanya dari alam dan masyarakat, tapi juga dalam pemikiran dan bahasa itu sendiri. Kalkulus proposional berangkat dari persis postulat yang sama dengan yang digunakan oleh Aristoteles di abad ke-4 SM, yaitu, hukum identitas, hukum (tanpa-) kontradiksi, dan hukum tanpa-antara, yang ditambahi hukum negasi-ganda. Hukum-hukum ini tidak dituliskan dengan huruf biasa melainkan dengan simbol sebagai berikut:

a) p = p

b) p = ~ p

c) p V = ~ p

d) ~ (p ~ p)

Semuanya terlihat sangat manis, tapi tidaklah membuat perbedaan sedikitpun dengan hakikat silogisme. Terlebih lagi, logika simbolis itu sendiri bukanlah satu ide baru. Di tahun 1680-an, otak filsuf Jerman Leibniz yang selalu subur itu telah menghasilkan satu logika simbolis, sekalipun ia tak pernah mempublikasikannya.

Dimasukkannya simbol ke dalam logika tidaklah membawa kita selangkahpun lebih maju, persis karena alasan bahwa simbol-simbol itu, pada gilirannya, cepat atau lambat harus diterjemahkan ke dalam kata-kata dan konsep-konsep. Mereka memiliki keuntungan seperti tulisan steno, lebih praktis untuk operasi teknis tertentu, komputer dan beberapa hal lain, tapi hakikatnya masih persis sama seperti yang sebelumnya. Jaringan simbol matematis yang membingungkan ini diiringi oleh jargon-jargon yang benar-benar muluk, yang nampaknya memang dibuat sehingga logika tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang kebanyakan, seperti kasta-pendeta dari Mesir dan Babilonia yang menggunakan kata-kata dan simbol kultus rahasia untuk menjaga agar pengetahuan mereka tidak bocor pada orang lain. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa orang-orang Mesir dan Babilonia itu memang benar-benar memiliki pengetahuan yang berharga untuk dimiliki, seperti gerak benda-benda langit, apa yang tidak dimiliki sama sekali oleh para ahli logika modern.

Istilah-istilah "predikat monadik", "pengkuantifikasi", "variabel individu" dan lain-lain dsb., dirancang untuk memberi kesan bahwa logika formal adalah satu ilmu yang tidak boleh dipandang enteng, karena ia tidak akan pernah dapat dipahami oleh orang-orang kebanyakan. Kita harus benar-benar prihatin bahwa nilai ilmiah dari satu sistem kepercayaan tidak berbanding lurus dengan ketidakjelasan bahasa yang dipergunakannya. Jika itu yang terjadi, tiap ahli mistik-religius dalam sejarah akan menjadi ilmuwan yang setaraf dengan gabungan Newton, Darwin dan Einstein sekaligus.

Dalam komedi karya Moliere, Le Bourgeois Gentilhomme, M. Jourdain terkejut kala diberitahu bahwa ia telah berbicara dalam prosa sepanjang hidupnya, tanpa ia sadari. Logika modern hanya mengulangi semua kategori kuno, dengan dibubuhi beberapa simbol dan istilah-istilah yang enak didengar, untuk menyembunyikan fakta bahwa sama sekali tidak ada sesuatupun hal baru dalam apa yang mereka nyatakan. Aristoteles telah menggunakan "predikat monadik" (pernyataan yang menyerahkan kepemilikan pada individu) sejak berabad-abad lalu. Tidak diragukan lagi, seperti M. Jourdain, ia akan bergirang ketika tahu bahwa ia telah menggunakan Monadic Predicate sepanjang hidupnya, tanpa ia sadari. Tapi hal itu tidak akan membuat perbedaan apapun atas apa yang tengah dikerjakannya. Penggunaan label-label baru tidaklah mengubah isi dari semangkuk selai. Pun penggunaan jargon tidak akan meningkatkan kesahihan satu bentuk pemikiran yang sudah terkikis jaman.

Adalah satu kebenaran yang memprihatinkan bahwa, di penghujung abad ke-20, logika formal telah mencapai batas terakhirnya. Tiap penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terus saja menghujamkan pukulan pada logika itu. Sekalipun bentuknya diubah-ubah, hukum-hukum dasarnya tetap tidak dapat berubah. Satu hal sudah jelas, perkembangan logika formal selama seratus tahun terakhir, pertama melalui kalkulus proposional (p.c.), kemudian melalui kalkulus proposional rendah (l.p.c.) telah membawa subjek tersebut pada titik penyempurnaan sejauh yang dimungkinkan. Kita telah mencapai sistem logika formal yang paling komprehensif, sehingga penambahan lain tentunya tidak akan menyajikan sesuatupun yang baru. Logika formal telah menyatakan segala yang dapat dinyatakannya. Jika kita berani mau jujur, ia telah mencapai tahap itu beberapa waktu yang lalu.

Baru-baru ini, basis telah bergeser dari argumen pada kesimpulan deduktif. Bagaimana "teorema logika diturunkan"? Ini adalah landasan yang amat rapuh. Basis logika formal telah diterima tanpa pertanyaan selama berabad-abad. Satu penyelidikan yang menyeluruh atas landasan teoritik dari logika formal niscanya akan berakhir pada perubahan logika itu menjadi lawannya. Arend Heyting, pendiri Aliran Matematika Intuisionis, menolak kesahihan dari beberapa pembuktian yang digunakan dalam matematika klasik. Walau demikian, kebanyakan ahli logika masih terus berkeras untuk memeluk cara-cara logika formal yang usang itu, seperti seorang yang berkeras memeluk sebatang jerami ketika ia sudah hampir tenggelam:

"Kami tidak percaya bahwa ada logika yang non-Aristotelian dalam makna seperti adanya geometri yang non-Euklides, yaitu, satu sistem logika yang mengasumsikan kebalikan dari prinsip-prinsip logika Aristotelian, prinsip kontradiksi dan tanpa-antara, sebagai kebenaran, dan dapat menarik kesimpulan-kesimpulan yang sahih daripadanya."[xvii]

Ada dua cabang utama logika formal saat ini - kalkulus proposional dan kalkulus predikat. Keduanya berangkat dari aksioma, yang harus dianggap sebagai benar "dalam semua bidang yang mungkin ada", di semua keadaan. Ujian terakhirnya tetaplah kebebasan dari segala kontradiksi. Segala hal yang kontradiktif akan dianggap sebagai "tidak sahih". Tentu hal ini memiliki beberapa penerapan, contohnya, pada komputer yang dirancang untuk menjalankan prosedur ya atau tidak yang sederhana. Pada kenyataannya, segala aksiom semacam itu adalah tautologi. Bentuk-bentuk kosong ini dapat diisi dengan hakikat macam apapun juga. Keduanya diterapkan dengan cara yang mekanistis dan memaksa terhadap segala subjek. Ketika persoalannya menyangkut proses yang linear, keduanya memang berjalan dengan baik. Hal ini penting, karena sejumlah besar proses dalam alam dan masyarakat benar berjalan dengan cara ini. Tapi ketika kita sampai pada gejala-gejala yang lebih kompleks, kontradiktif dan non-linear, hukum-hukum logika formal runtuh. Akan segera nampak bahwa, jauh dari klaim mereka bahwa merekalah "kebenaran di segala bidang yang mungkin ada", mereka adalah, seperti kata Engels, sangat terbatas dalam penerapan mereka, dan dengan cepat akan terkupas kedangkalannya ketika berhadapan dengan gejala sebagai sebuah totalitas keadaan. Lebih jauh lagi, persis inilah keadaan yang telah menyita perhatian ilmu pengetahuan, khususnya bagian yang paling inovatif, di sebagian besar waktu sepanjang abad ke-20.
Read More - Logika Modern

Sebuah Pengantar
Sejarah Singkat
Dilihat dari pendekatan historis, ilmu filsafat dipahami melalui sejarah perkembangan pemikiran filsafat. Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Di samping menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan,

Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didom inasi oleh dogm atism egereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan Akibatnya, Barat mengalami kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar kehidupan mereka kembali memiliki makna.
Secara garis besar, perkembangan sejarah filsafat dibagi dalam lima tahap:
1. Filsafat Yunani Klasik
2. Filsafat Yunani
3. Filsafat Abad Pertengahan
4. Filsafat Modern
5. Filsafat Posmodern

• Yunani Kuno
Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dim iliki bangsa Yunani.
Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. terhadap agama. Peran agama dimasa modern digantikan ilmu-ilmu positif
Pada m asa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM ).
Demikian juga Phitagoras (572-500 SM ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu. Begitupun para filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.

• Filsafat Yunani
Filsafat zaman Yunani ini diwakili oleh Plato dan Aristoteles. Pada zaman ini, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mulai berkembang. Mereka tidak lagi hanya melihat keluar (oustside), akan tetapi juga mulai melihat ke dalam (inside). Persoalan tentang manusia mulai dipertanyakan. Misalnya, apa hakikat manusia? Dari mana manusia berasal? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut lahirlah suatu jaw aban. Salah satunya adalah jawaban yang muncuk dari Plato bahwa hakikat manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa. Secara struktur, jiwa lebih tinggi dari tubuh. Menurut Plato, tubuh menjadi penjara jiwa. Jiwa akan bebas ketika ia lepas dari tubuhnya. Sementara itu, Aristoteles mengatakan hakikat manusia tidak terpisah antara tubuh dan jiwa. Tidak ada yang lebih tinggi secara struktur. Manusia terdiri dari forma dan materi.

• Abad Pertengahan
Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional.
Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430). Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.
Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033--1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.

• Filsafat Modern
Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat perubahan dalam kerangka berfikir. Problem utama masa Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.
Diantara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan gereja. Salah satu semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkem bangnya filsafat dan sains. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.

• Posmodernisme
Filsafat postmodern ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian.
Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam es (1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup m anusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang m ereka anggap suci. Dengan demikian, keagam aan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari system spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).
Read More - Sejarah FIlsafat di Eropa

Ada satu fakta yang mengejutkan bahwa hukum-hukum dasar logika formal yang dikembangkan oleh Aristoteles telah pada dasarnya tinggal tak terusik selama lebih dari dua ribu tahun. Dalam masa ini, kita telah menyaksikan satu proses perubahan tanpa henti di segala bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan pemikiran manusia. Tapi tetap saja para ilmuwan puas dengan terus menggunakan alat-alat metodologi yang pada dasarnya sama dengan apa yang digunakan oleh Orang-orang Terpelajar di masa-masa di mana ilmu pengetahuan masih berada di taraf alkimia.

Karena peranan sentral yang telah dimainkan oleh logika formal dalam pemikiran Barat, sangatlah mengejutkan betapa kecil perhatian yang telah dicurahkan pada hakikat sejatinya, makna dan sejarahnya. Biasanya ia dianggap sebagai sesuatu yang wajar, benar dengan sendirinya, dan tetap tinggal demikian sepanjang segala abad. Atau ia disajikan sebagai satu konvensi yang nyaman, di mana orang-orang yang punya otak dapat bersepakat tentang segala sesuatu, untuk memfasilitasi pemikiran dan perdebatan, seperti halnya orang-orang yang hidup di lingkungan beradab bersepakat tentang cara makan yang baik. Ide yang disajikan adalah bahwa seluruh hukum-hukum logika adalah bangunan yang artifisial, yang dibangun oleh para ahli logika, dalam iman bahwa hukum-hukum ini memiliki penerapan dalam beberapa bidang pemikiran, di mana mereka akan dapat menyingkapkan satu atau lain kebenaran. Tapi mengapa hukum-hukum logika memiliki keabsahan atas segala hal, jika mereka sendiri adalah bangunan abstrak, khayalan acak yang disusun di dalam otak?

Tentang ide ini, Trotsky memberi komentar yang ironis:
"Mengatakan bahwa orang telah mencapai satu persepakatan dengan silogisme adalah hampir sama dengan mengatakan, atau tepatnya persis sama dengan mengatakan, bahwa orang-orang telah mencapai persepakatan untuk dicucuk hidungnya. Silogisme tidaklah lebih dari sebuah hasil perkembangan organik, yaitu, perkembangan biologis, antropologis dan sosial dari kemanusiaan, setara dengan perkembangan berbagai organ tubuh, di antaranya adalah organ penciuman kita."

Kenyataannya, logika formal pada akhirnya harus diturunkan dari pengalaman, seperti halnya segala cara berpikir yang lain. Dari pengalaman mereka, manusia menarik berbagai kesimpulan, yang kemudian mereka terapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini bahkan berlaku pula untuk hewan, sekalipun dalam tingkatan yang berbeda.

"Seekor ayam tahu bahwa gandum secara umum berguna, perlu dan nikmat. Ia mengenali sebutir gandum sebagai bulir gandum dengan menarik satu kesimpulan logis dengan mempergunakan paruhnya. Silogisme Aristoteles hanyalah merupakan satu ekspresi yang terartikulasi dari penarikan kesimpulan mental yang mendasar itu, yang kita amati dilakukan pula dalam berbagai tingkatan oleh hewan-hewan."[xii]

Trotsky pernah berkata bahwa hubungan antara logika formal dengan logika dialektik mirip dengan hubungan antara matematika rendah dan matematika tinggi. Yang satu tidaklah menyangkal keharusan yang lain dan tetap sahih pada tahapan tertentu. Mirip pula dengan hukum-hukum Newton, yang mendominasi selama ratusan tahun, kini terbukti tidak berlaku di dunia partikel sub-atomik. Lebih tepat lagi, fisika mekanik lama, yang telah dikritisi tajam oleh Engels, kini terbukti sepihak dan hanya memiliki penerapan yang terbatas.

"Dialektika," tulis Trotsky, "bukanlah fiksi maupun mistisisme, tapi merupakan ilmu tentang bentuk-bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi pada masalah-masalah dalam hidup sehari-hari melainkan pada upaya-upaya mencapai pemahaman tentang proses yang lebih kompleks dan luas."[xiii]

Metode yang paling dikenal umum dari logika formal adalah deduksi, yang berupaya untuk menegaskan kebenaran kesimpulan-kesimpulannya dengan memenuhi dua kondisi yang berbeda a) kesimpulan itu haruslah benar-benar mengalir dari premis-premisnya; dan b) premis-premis itu sendiri harus benar. Jika kedua kondisi ini dipenuhi, argumen itu disebut sebagai sahih. Hal ini melegakan kita. Kita ada di sini, di dunia nalar sehat. "Benar atau salah?" "Ya atau tidak?" Kaki kita tertanam kokoh di tanah. Nampaknya kita telah sampai pada "kebenaran, seluruh kebenaran, dan bukan sesuatupun selain kebenaran." Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Atau masihkah?

Jika kita menerapkan cara yang ketat, dari sudut pandang logika formal, bukanlah satu hal yang patut dirisaukan apakah premis-premis itu benar atau salah. Selama kesimpulan dapat ditarik dengan tepat dari premis-premis itu, inferensinya akan disebut sebagai sahih secara deduktif. Yang penting adalah membedakan antara inferensi yang sahih dan yang tidak sahih. Dengan demikian, dari sudut pandang logika formal, penilaian berikut ini adalah sahih secara deduktif: Semua ilmuwan memiliki dua kepala. Einstein adalah seorang ilmuwan. Maka, Einstein memiliki dua kepala. Kesahihan inferensi tidaklah tergantung dari materi-subjek sama sekali, dengan cara ini, bentuk diangkat mengatasi hakikat.

Dalam prakteknya, tentu saja, segala cara berpikir yang tidak menunjukkan kebenaran dari premis-premisnya akan dianggap lebih buruk dari sekedar tidak berguna. Premis-premis haruslah ditunjukkan kebenarannya. Tapi hal ini akan membawa kita pada kontradiksi lagi. Proses menguji kebenaran dari satu set premis akan otomatis menimbulkan satu himpunan permasalahan baru, yang pada gilirannya akan harus diuji lagi kebenarannya. Seperti yang ditunjukkan Hegel, tiap premis memberi kita silogisme baru, dan demikian seterusnya sampai tak berhingga. Sehingga apa yang kelihatannya sangat sederhana ternyata sangatlah kompleks dan kontradiktif.

Kontradiksi yang terbesar terletak pada premis dasar dari logika formal itu sendiri. Walaupun ia menuntut segala sesuatu di bumi ini untuk diuji dihadapan Mahkamah Agung Silogisme, logika itu sendiri menjadi rancu ketika diminta membenarkan anggapan-anggapannya sendiri. Mendadak ia kehilangan segala kemampuan kritisnya, dan akan menyandarkan diri pada iman, nalar sehat, "hal yang pasti benar", atau klausul penyelamat paling ampuh dari filsafat - a priori. Nyatanya, apa yang disebut aksioma logika hanyalah rumusan-rumusan yang tak tak dibuktikan lebih lanjut. Rumusan semacam inilah yang diambil sebagai titik start, dari mana semua rumusan lanjut (teorema) dideduksi persis seperti yang terjadi dalam geometri klasik, di mana titik startnya disediakan oleh prinsip-prinsip Euclides. Prinsip-prinsip itu dianggap benar, tanpa perlu membutuhkan bukti apapun lagi, yaitu, kita harus mengimani prinsip-prinsip itu.

Tapi, bagaimana jika aksioma dasar dari logika formal terbukti salah? Maka kita akan berada pada posisi yang persis sama seperti ketika kita di depan memberi Einstein satu kepala tambahan. Apakah dapat diterima bahwa hukum-hukum abadi logika mungkin keliru? Mari kita periksa hal ini lebih teliti. Hukum dasar logika formal adalah:

1. Hukum tentang identitas ("A" = "A").

2. Hukum tentang kontradiksi ("A" tidak sama dengan "bukan-A").

3. Hukum tentang tanpa-antara ("A" tidak sama dengan "B").

Hukum-hukum ini, sepintas lalu, tampaknya sangat masuk di nalar. Bagaimana mungkin kita menentangnya? Walau demikian, telaah yang lebih teliti menunjukkan bahwa hukum-hukum ini penuh dengan masalah dan kontradiksi yang filsafati sifatnya. Dalam bukunya Science of Logic, Hegel menyediakan satu telaah yang rinci tentang Hukum Identitas, menunjukkan bahwa hukum-hukum ini sepihak dan, dengan demikian, tidaklah tepat.

Pertama-tama, mari kita perhatikan bahwa penampakan adanya satu kepastian rantai argumen, di mana langkah yang satu diikuti oleh langkah yang lain, adalah khayal belaka. Hukum kontradiksi hanyalah menyatakan kembali hukum identitas dalam bentuk yang negatif. Hal yang sama berlaku pada hukum yang ketiga. Apa yang kita lihat di sini hanyalah pengulangan dari hukum yang pertama dalam bentuk yang berbeda-beda. Semua hal tegak atau runtuh berdasarkan hukum tentang identitas ("A" = "A"). Sepintas lalu, tidak akan ada yang dapat membuat hal ini keliru. Ia adalah Yang Tersuci Dari Segala Yang Suci Dalam Logika, dan merupakan satu hal yang tidak boleh dipertanyakan lagi. Tapi, ia telah dipertanyakan, dan penanyanya salah satu pemikir terbesar yang pernah hidup di muka bumi.

Ada satu kisah yang ditulis oleh Hans-Christian Andersen berjudul "Jubah Baru Sang Raja", di mana seorang kaisar yang agak bodoh membeli selembar jubah dari seorang penipu, jubah yang indah tapi tidak nampak. Kaisar yang dungu ini berjalan-jalan dengan jubah barunya, setiap orang bersepakat bahwa jubah itu memang indah, sampai satu hari seorang anak menyatakan bahwa kaisar itu, pada kenyataannya, telanjang bugil. Hegel berbuat hal yang serupa untuk dunia filsafat dengan kritiknya terhadap logika formal. Para pembela logika formal tidak pernah memaafkan Hegel atas perbuatannya ini.

Apa yang dikenal sebagai hukum tentang identitas itu, pada kenyataannya, adalah tautologi. Secara paradox, dalam logika tradisional, hal ini selalu dianggap sebagai salah satu dari kesalahan terbesar yang dapat dilakukan orang ketika mendefinisikan sebuah konsep. Tautologi adalah satu definisi yang tak dapat dipertahankan secara logis karena hanya menyatakan dengan cara lain apa yang telah terkandung dalam hal yang seharusnya dijelaskan. Mari kita kongkritkan pengertian ini. Seorang guru bertanya pada muridnya seperti apakah seekor kucing itu, dan murid itu menjawab bahwa seekor kucing adalah ... seekor kucing. Jawaban seperti ini tidak akan dianggap mencerminkan kepandaian yang tinggi. Walau bagaimanapun, sebuah kalimat biasanya bertujuan untuk menyatakan sesuatu kepada kita, dan kalimat itu tidaklah menyatakan apa-apa sama sekali. Tapi, definisi terpelajar yang tidak terlalu cemerlang tentang mahluk berkaki empat yang itu adalah satu ekspresi sempurna dari hukum identitas dalam segala kemuliaannya. Pemuda tadi tentunya segera jatuh ke peringkat terbawah di kelasnya tapi, selama lebih dari dua ribu tahun, para profesor yang paling terpelajarpun telah dengan puas memperlakukan prinsip itu sebagai kebenaran filsafati yang tertinggi.

Apa yang diajarkan oleh hukum indentitas pada kita adalah bahwa sesuatu adalah sesuatu itu sendiri. Kita tidak maju selangkahpun dari titik itu. Kita tetap tinggal di tingkat abstraksi yang paling umum dan kosong. Karena kita tidak dapat mempelajari apapun tentang realitas kongkrit dari objek yang kita renungkan, tentang sifat-sifat dan hubungan-hubungannya. Seekor kucing adalah seekor kucing; saya adalah saya; Anda adalah Anda; sifat manusia adalah sifat manusia; segala hal adalah apa adanya. Kekosongan dari penilaian semacam ini menjulang dengan telanjangnya. Ia adalah ekspresi yang paling bergairah dari pemikiran yang sepihak, formalitik dan dogmatik.

Apakah dengan demikian hukum identitas sama sekali tidak sahih? Tidak juga. Hukum ini memiliki beberapa penerapan, tapi sangatlah terbatas, tidak seperti yang dibayangkan orang. Hukum-hukum logika formal dapat berguna dalam memperjelas beberapa konsep, menelaah, memberi label, mengkatalog dan mendefinisikan. Ia memiliki sifat kerapian. Ini ada gunanya. Dalam berbagai gejala sehari-hari yang normal dan sederhana, hukum-hukum ini masih berlaku. Tapi ketika kita berurusan dengan gejalan yang lebih kompleks, yang melibatkan pergerakan, lompatan mendadak, perubahan kualitatif, hukum-hukum ini menjadi kurang dan, nyatanya, runtuh sama sekali.

Kutipan dari Trotsky berikut dengan gemilang menyimpulkan garis argumen Hegel dalam hubungannya dengan hukum identitas:

"Saya di sini akan mencoba untuk menggambarkan sketsa atas substansi dari masalah tersebut dalam satu bentuk yang sangat ringkas. Logika Aristotelian dari silogisme sederhana bermula dari proposisi bahwa 'A' adalah sama dengan 'A'. Postulat ini diterima sebagai sebuah aksioma bagi sejumlah besar tindakan praktis manusia dan generalisasi yang paling dasar. Tapi pada kenyataannya 'A' tidaklah sama dengan 'A'. Hal ini mudah dibuktikan jika kita mengamati kedua huruf ini di bawah sebuah lensa - keduanya akan berbeda satu dari yang lain. Tapi, kita dapat menyangkal, persoalannya bukanlah mengenai ukuran atau bentuk huruf-huruf itu, karena mereka hanyalah satu simbol bagi kesetaraan kuantitas, misalnya, satu pon gula. Penyangkalan ini tidak mengenai sasarannya; pada kenyataannya satu pon gula tidaklah sama dengan satu pon gula - satu timbangan yang makin teliti akan membuktikan perbedaan ini. Lagi-lagi kita dapat menyangkal: tapi satu pon gula pasti sama dengan dirinya sendiri. Ini juga tidak benar - semua hal berubah tanpa henti dalam ukuran, berat, warna, dan lain-lain. Segala macam hal bahkan tidak pernah sama dengan dirinya sendiri. Seorang dogmatis akan menjawab bahwa satu pon gula akan sama dengan dirinya sendiri 'tiap kita melakukan pengukuran'. Di samping nilai praktis aksiom ini, yang semakin lama kelihatannya semakin pudar, pada akhirnya ia tidak sanggup menahan tekanan kritisisme teoritik juga. Bagaimana kita harus memandang kata 'saat'? Jikalaupun ia dipandang sebagai suatu jangka waktu yang kecil tak berhingga, selama waktu itu satu pon gula itu masih tetap akan berada di bawah proses perubahan. Atau 'saat' ini hanyalah satu abstraksi matematika murni, yaitu satu nol satuan? Tapi segala sesuatu hadir di dalam waktu; dan keberadaan itu sendiri adalah sebuah proses perubahan yang tanpa henti; maka waktu adalah satu unsur yang mendasar dari keberadaan. Dengan demikian aksioma 'A' adalah sama dengan 'A' menyatakan bahwa satu hal akan sama dengan dirinya sendiri jika ia tidak berubah sama sekali, yaitu, jika ia tidak ada.

"Sekilas dapat saja terlihat bahwa 'detil-detil kecil' semacam itu tidaklah berguna. Dalam kenyataannya, mereka memiliki makna yang menentukan. Aksioma 'A' adalah sama dengan 'A' nampak di satu sisi sebagai titik awal kesalahan-kesalahan dalam pengetahuan kita. Penggunaan aksioma 'A' adalah sama dengan 'A' tanpa perlu menghiraukan kesalahan yang terjadi hanya dimungkinkan dalam batasan tertentu. Ketika kita dapat mengabaikan perubahan kualitatif pada 'A' dalam kerja yang kita lakukan maka kita dapat menganggap bahwa 'A' adalah sama dengan 'A'. Ini adalah, contohnya, cara yang diambil seorang pembeli dan penjual dalam menimbang satu pon gula. Kita juga mengukur panas matahari dengan cara yang sama. Sampai akhir-akhir ini, kita memandang daya beli dolar dengan cara ini juga. Tapi perubahan kuantitatif yang melebihi batasan tertentu akan terubah menjadi kualitatif. Satu pon gula yang direndam dalam air atau bensin akan berhenti menjadi satu pon gula. Satu dolar yang dipegang oleh seorang presiden akan berhenti menjadi satu dolar. Penentuan saat titik kritis yang tepat di mana kuantitas berubah menjadi kualitas adalah salah satu tugas yang terpenting dan tersulit dalam segala bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.

"Hubungan pemikiran dialektik dengan pemikiran vulgar adalah setara dengan hubungan yang ada antara film bioskop dengan foto. Film tidaklah menolak keberadaan foto tapi justru menggabungkan satu rangkaian foto tersebut menurut hukum-hukum gerak. Dialektika tidaklah merupakan penyangkalan terhadap silogisme, tapi mengajari kita untuk menggabungkan silogisme dengan cara tertentu untuk membawa pemahaman kita lebih dekat kepada realitas yang selamanya berubah. Hegel, dalam bukunya, Logic, menegakkan serangkaian hukum: perubahan dari kuantitas menjadi kualitas, perkembangan melalui kontradiksi, perubahan dari kemungkinan menjadi keniscayaan, dan lain-lain, yang sama pentingnya untuk pemikiran teoritik seperti pentingnya silogisme bagi tugas-tugas yang elementer sifatnya."

Hal yang mirip terjadi dengan hukum yang ketiga, yang membuat orang harus menyepakati atau menolak satu hal, bahwa satu hal haruslah salah satu: hitam atau putih, hidup atau mati, "A" atau "B". Segala sesuatu tidak dapat menjadi keduanya pada saat bersamaan. Benar, bahwa tanpa asumsi semacam itu mustahillah muncul satu pemikiran yang jelas dan konsisten. Namun demikian, apa yang nampak merupakan kesalahan teoritik yang dapat diabaikan cepat atau lambat akan membuat diri mereka dirasakan dalam praktek, seringkali dengan dampak yang sangat merusak. Satu retakan selebar rambut di sayap sebuah pesawat jet bisa jadi dapat nampaknya dapat diabaikan, dan, sesungguhnya, dapat diabaikan jika pesawat itu terbang dengan kecepatan rendah. Namun, pada kecepatan yang benar-benar tinggi, kesalahan yang mini dapat mendorong terjadinya satu bencana. Dalam Anti-Dühring, Engels menjelaskan kekurangan dari apa yang disebut hukum tanpa-antara:

"Bagi para penganut metafisik," tulis Engels, "segala hal dan citra mental mereka, ide, bersifat terisolasi, hanya dapat diperiksa satu persatu dan saling terpisah satu sama lain, tetap, objek penelitian yang kaku dan tidak akan berubah selamanya. Seorang penganut metafisika akan berpikir dalam antitesa yang tidak mengenal nilai antara. Komunikasi yang dikenalnya adalah 'yang benar katakan benar; yang tidak katakan tidak; karena yang lebih dari itu berasal dari si jahat'. Baginya sesuatu hal hanya bisa ada atau tidak ada; satu hal tidak dapat pada saat yang bersamaan menjadi dirinya sendiri dan menjadi hal lain. Positif dan negatif mutlak terpisah dari yang lain; sebab dan akibat berdiri sebagai antitesa yang kaku satu terhadap yang lain.

"Pada pandangan pertama cara berpikir ini terasa bagi kita sebagai hal yang paling dapat diterima karena ia merupakan apa yang sering disebut sebagai nalar-sehat. Namun nalar sehat, sekalipun ia adalah tuan yang terhormat di rumahnya sendiri, akan mendapati petualangan yang hebat kalau ia berani mencoba untuk keluar ke dunia riset yang maha luas. Cara berpikir metafisik, yang dapat dibenarkan dan bahkan perlu dalam sejumlah bidang yang cakupannya tergantung dari sifat objek tersebut, niscaya membentur satu batasan - cepat atau lambat. Melebihi batasan itu, ia akan menjadi sepihak, penuh kekurangan, abstrak, tersesat dalam kontradiksi yang tak terpecahkan, karena dalam kehadiran berbagai hal ia melupakan kesalingterhubungan mereka satu sama lain; karena dalam kehadiran keberadaan mereka ia melupakan bagaimana mereka mengada dan bagaimana mereka melenyap; karena dalam keadaan mereka yang diam ia melupakan pergerakan mereka. Cara berpikir metafisik tidak dapat membedakan kayu dari pohon. Untuk keperluan sehari-hari kita tahu dan dapat dengan tegas menyatakan, misalnya, apakah seekor hewan hidup atau mati. Tapi, setelah mengamati lebih jauh, kita akan menemukan bahwa hal ini seringkali menjadi persoalan yang sangat rumit, seperti yang sering dihadapi para juri di pengadilan. Mereka telah memukuli kepala mereka dalam kebingungan untuk menentukan batasan rasional di mana kita dapat mengatakan bahwa pengguguran terhadap janin di rahim seorang ibu adalah sebuah pembunuhan. Sama mustahilnya untuk menentukan saat tepat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah sebuah gejala yang mendadak dan spontan, tapi merupakan sebuah proses yang berkepanjangan.

Dalam cara yang sama, setiap mahluk organik pada segala saat adalah sama dan sekaligus tidak sama; tiap saat ia mencerna materi yang dipasok dari luar dan membuang materi lain dari dalam tubuh; tiap saat beberapa sel dalam tubuhnya mati dan yang lain memperbaharui diri; cepat atau lambat materi dalam tubuh akan menjadi sama sekali baru dan digantikan oleh molekul-molekul materi yang lain, sehingga tiap mahluk organik adalah selalu menjadi dirinya sendiri, dan sekaligus sesuatu yang bukan dirinya sendiri."

Hubungan antara dialektika dan logika formal dapat diperbandingkan dengan hubungan antara mekanika kuantum dan mekanika klasik. Mereka tidak saling bertentangan satu sama lain melainkan saling melengkapi. Hukum-hukum mekanika klasik tetap berlaku untuk sejumlah besar operasi. Walau demikian, hukum-hukum itu tidak dapat diterapkan dengan cukup baik di dunia partikel sub-atomik, yang melibatkan kuantitas yang luar biasa kecilnya dan kecepatan yang luar biasa besarnya. Mirip dengan itu, Einstein juga tidak menggantikan Newton, tapi hanya mengungkap batasan di mana sistem Newton tidak lagi berlaku.

Logika formal (yang telah mendapatkan kekuatan prasangka populer dalam bentuk "nalar-sehat") tetap berlaku untuk serangkaian pengalaman sehari-hari. Bagaimanapun, hukum-hukum logika formal, yang berangkat dari pandangan yang pada hakikatnya statis, niscaya runtuh ketika beruurusan dengan gejala-gejala yang lebih kompleks, berubah dan kontradiktif. Dengan menggunakan istilah teori chaos, persamaan "linear" dari logika formal tidak dapat menangani proses yang turbulen yang dapat diamati terjadi di mana-mana di alam, masyarakat dan sejarah. Hanya metode yang dialektik yang akan mampu menangani hal ini
Read More - Batas-Batas Hukum Tentang Identitas
Sebelum kita mulai, Anda mungkin tergoda untuk bertanya, "Well, memangnya kenapa?" Memangnya perlu kita repot-repot memikirkan masalah-masalah rumit ilmu pengetahuan dan filsafat? Terhadap pertanyaan semacam ini, ada dua kemungkinan jawaban. Jika yang dimaksudkan dengan pertanyaan itu adalah: apakah kita perlu tahu tentang hal-hal itu agar dapat meneruskan hidup kita sehari-hari, tentu jawabannya adalah tidak. Tapi, jika kita ingin mendapat satu pemahaman rasional mengenai dunia yang kita diami ini, dan proses-proses dasar yang bekerja di alam, masyarakat dan cara kita untuk memandangnya, maka persoalannya akan jadi lain.
Aneh sebetulnya, tapi setiap orang memiliki "filsafat"-nya masing-masing. Sebuah filsafat adalah cara untuk memandang dunia. Kita semua yakin bahwa kita tahu bagaimana membedakan yang salah dari yang benar, yang baik dari yang buruk. Hal-hal inilah yang sebenarnya merupakan hal-hal rumit yang telah menyita pemikiran dari para pemikir terbesar di dunia sepanjang sejarah. Ketika kita dihadapkan dengan fakta yang mengerikan akan hadirnya kejadian-kejadian seperti perang saudara di Yugoslavia, kemunculan kembali pengangguran massal, pembantaian di Rwanda, banyak orang akan mengakui bahwa mereka tidak memahami hal-hal ini, dan seringkali mereka jatuh ke dalam rujukan-rujukan kabur semacam "watak manusia". Tapi apakah watak manusia ini, hal misterius yang dilihat sebagai sumber dari segala kejahatan dan katanya tidak akan pernah berubah sampai akhir jaman? Ini adalah pertanyaan filsafati yang mendasar, pertanyaan yang hanya sedikit yang berani menjawabnya. Kecuali orang-orang yang pikirannya telah dicor dengan pemikiran religius, di mana mereka akan mengatakan bahwa Tuhan, dalam kebijaksanaan-Nya, telah menakdirkan kita menjadi seperti demikian. Mengapa orang perlu menyembah satu Keberadaan yang mempermainkan ciptaan-Nya sendiri, itu adalah pertanyaan yang bukan hak kami untuk menjawabnya.
Mereka yang bersikeras bahwa mereka tidak menganut falsafah apapun telah jatuh ke dalam kekeliruan. Alam semesta membenci kekosongan. Orang-orang yang tidak memiliki satu falsafah yang tersusun secara koheren - rapi, teratur dan bersesuaian antar unsurnya - niscaya akan otomatis menjadi cermin dari ide-ide dan prasangka yang berlaku dalam masyarakat dan jaman di mana mereka hidup. Hal ini berarti, dalam konteks tertentu, bahwa kepala mereka akan penuh dengan ide-ide yang dicekokkan melalui koran, televisi, mimbar kotbah dan ruang-ruang kelas, semua yang secara setia merupakan cerminan dari kepentingan dan moralitas dari sistem kemasyarakat yang sedang berlaku.
Kebanyakan orang biasanya berhasil berkayuh melalui lumpur kehidupan, sampai terjadi satu benturan besar yang memaksa mereka untuk meninjau kembali segala ide dan nilai yang telah menyertai mereka selama itu. Krisis masyarakat memaksa mereka untuk mempertanyakan banyak hal yang selama itu mereka anggap wajar. Pada masa-masa semacam itu, ide-ide yang kelihatannya jauh di cakrawala tiba-tiba menjadi sangat relevan. Semua orang yang ingin memahami kehidupan, bukan sekedar sebagai satu urutan kebetulan yang tak bermakna dan rutinitas tanpa berpikir, harus mengeluti filsafat, yaitu, dengan pemikiran yang diletakkan lebih tinggi dari segala masalah mendesak yang dihadapi sehari-hari. Hanya dengan cara inilah kita akan mengangkat diri kita ke tingkatan di mana kita mulai mencapai kepenuhan potensi kita sebagai umat manusia yang memiliki kesadaran, yang mau dan mampu mengendalikan nasib kita sendiri.
Secara umum dipahami bahwa apapun yang berharga dalam hidup ini harus diperjuangkan. Studi filsafat, dari sifat dasarnya, melibatkan beberapa kesulitan, karena studi itu menangani hal-hal yang jauh terpisah dari dunia pengalaman sehari-hari. Bahkan istilah yang digunakan mengandung kesulitan-kesulitan karena kata-kata digunakan dengan susunan yang tidak selalu berhubungan dengan makna di mana kata-kata itu dipergunakan sehari-hari. Tapi, hal yang sama terjadi pula dalam berbagai bidang studi khusus, dari psikoanalisa sampai permesinan.
Hambatan yang kedua lebih serius lagi. Di abad yang lalu, ketika Marx dan Engels pertama menerbitkan tulisan-tulisan mereka tentang materialisme dialektik, mereka dapat mengasumsikan bahwa banyak pembaca mereka setidaknya memiliki pengalaman bergaul dengan filsafat klasik, termasuk Hegel. Kini mustahil membuat asumsi semacam itu. Filsafat tidak lagi menempati tempat sepenting dulu, karena spekulasi atas alam raya telah digantikan oleh ilmu pengetahuan. Adanya teleskop-radio dan pesawat antariksa membuat kita tidak perlu lagi menerka-nerka sifat dan cakupan dari sistem tata-surya kita. Bahkan misteri kejiwaan manusia kini semakin tersingkap oleh neurobiologi dan psikologi.
Situasinya tidak sebaik itu di bidang ilmu-ilmu sosial, terutama karena gairah untuk mencapai pengetahuan yang akurat kini telah demikian berkurang sehingga ilmu pengetahuan justru menjadi hambatan bagi kepentingan material yang mengatur kehidupan manusia. Kemajuan-kemajuan besar yang dicapai oleh Marx dan Engels dalam bidang-bidang analisis sosial dan sejarah dan ekonomi tidak termasuk cakupan dari buku ini. Cukuplah jika kami menunjukkan bahwa, sekalipun terus-menerus diserang dengan ganas sejak kelahirannya, teori Marxisme tentang perkembangan sosial telah menjadi satu faktor penentu dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial modern. Untuk bukti tentang kebugaran dan keperkasaan teori ini, cukuplah kita melihat fakta bahwa serangan kepadanya bukan hanya berlanjut, tapi malah semakin meningkat intensitasnya seiring dengan berjalannya waktu.
Di masa lalu, perkembangan ilmu pengetahuan, yang selalu terkait erat dengan perkembangan kekuatan produktif, belumlah mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuat orang sanggup memahami dunia yang mereka huni. Karena ketiadaan satu pengetahuan yang ilmiah, atau alat material untuk menggapai pengetahuan itu, mereka terpaksa menyandarkan diri pada satu-satunya alat milik mereka yang dapat membantu mereka untuk memahami dunia, dan untuk dapat mengendalikannya - nalar manusia. Perjuangan untuk memahami dunia sangat dekat dengan perjuangan umat manusia untuk melepaskan diri dari tingkatan kesadaran hewani, untuk menguasai kekuatan alam yang membabi-buta itu dan untuk membebaskan diri dalam makna yang sejati, bukan legalistik. Perjuangan ini adalah benang merah yang merajut seluruh rangkaian kesejarahan manusia.
Peran Agama
"Mahluk yang bernama Manusia itu agaknya gila. Ia mustahil dapat menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi ia menciptakan lusinan tuhan." (Montaigne)
"Semua mitologi mengatasi dan mendominasi dan membentuk kekuatan alam dalam imajinasi dan oleh karena imajinasi; maka mitologi itu akan lenyap bersamaan dengan penguasaan sejati atas kekuatan-kekuatan alam itu." (Marx)
Hewan tidak memiliki agama, dan di masa lalu dikatakan bahwa itulah perbedaan utama antara manusia dan "mahluk biadab". Tapi sebenarnya itu cuma cara lain untuk mengatakan bahwa hanya manusia yang memiliki kesadaran dalam makna yang sepenuhnya. Di tahun-tahun terakhir, terdapatlah beberapa reaksi terhadap ide bahwa Manusia adalah sebuah Ciptaan yang khusus dan unik. Sanggahan ini tepat, tak usah diragukan lagi, dalam makna bahwa manusia ber-evolusi dari hewan, dan dalam banyak aspek, tetaplah hewani. Bukan hanya kita memiliki pula berbagai fungsi tubuh yang sama dengan hewan-hewan lain, tapi perbedaan genetik antara manusia dan simpanse hanya dua persen saja. Ini adalah jawaban yang keras terhadap hal-hal tidak masuk nalar yang dikemukakan para Kreasionis.
Riset-riset terbaru terhadap simpanse bonobo telah membuktikan tanpa keraguan lagi bahwa primata yang paling mirip manusia itu sanggup melakukan aktivitas mental yang mirip dalam beberapa aspek dengan aktivitas mental seorang anak kecil. Ini adalah bukti yang mengejutkan tentang hubungan kekerabatan antara manusia dan primata-primata termaju, tapi kemiripannya hanya sampai di sini saja. Sekalipun para peneliti melakukan berbagai usaha, kera-kera bonobo dalam kurungan itu tidak pernah dapat bicara atau menciptakan alat batu yang mirip dengan alat-alat primitif yang dulu diciptakan nenek moyang manusia. Perbedaan genetik yang dua persen antara manusia dan simpanse menandai lompatan kualitatif dari hewan menuju manusia. Hal ini dicapai, bukan oleh tangan suatu Pencipta, tapi dari perkembangan otak yang didorong oleh kerja-kerja fisik.
Ketrampilan untuk membuat alat batu yang paling sederhana pun menuntut satu tingkat kemampuan mental dan pemikiran abstrak yang amat tinggi. Kemampuan untuk memilih jenis batu yang tepat dan menolak jenis yang lain; pemilihan sudut pukulan yang tepat untuk mengukir ujung batu menjadi tajam, dan penggunaan kekuatan pukulan yang tepat agar batu itu tidak rusak - hal-hal ini adalah tindakan-tindakan yang menuntut intelektualitas yang sangat rumit. Rangkaian tindakan ini menentut derajat perencanaan dan kemampuan memperkirakan masa depan yang tidak dapati bahkan di tengah primata yang paling maju sekalipun. Sekalipun demikian, penggunaan dan pembuatan alat-alat batu bukanlah hasil dari perencanaan yang sadar, tapi merupakan sesuatu yang dijejalkan ke dalam otak nenek moyang manusia oleh kebutuhan-kebutuhan yang dihadapinya. Bukan kesadaran yang menghasilkan umat manusia, melainkan desakan keadaan hidup manusia yang mendorong perbesaran ukuran otak, penciptaan kemampuan bicara dan kebudayaan, termasuk agama.
Kebutuhan untuk memahami dunia terkait erat dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Mahluk-mahluk hominid pertama, yang menemukan penggunaan keping-keping batu untuk memotong daging hewan yang berkulit tebal, mendapat keuntungan yang sangat besar untuk bertahan hidup ketimbang mahluk-mahluk lain yang tidak sanggup meraih sumber protein dan lemak yang luar biasa itu. Mereka yang sanggup menyempurnakan alat-alat batu mereka dan sanggup mencari tempat yang menyediakan batu-batu terbaik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup. Dengan perkembangan teknik itu, muncullah pula perkembangan nalar, dan kebutuhan untuk menjelaskan berbagai gejala alam yang mengatur hidup mereka. Dalam jangka jutaan tahun, melalui trial and error, nenek-moyang kita mulai menetapkan berbagai hubungan antar benda-benda. Mereka mulai membuat abstraksi, yaitu, menggeneralisasi pengalaman dan praktek yang mereka temui sehari-hari.
Selama berabad-abad, pertanyaan mendasar dari filsafat adalah hubungan dari pemikiran terhadap keberadaan. Kebanyakan orang hidup dengan cukup bahagia tanpa perlu memikirkan persoalan ini. Mereka berpikir dan bertindak, bicara dan bekerja, tanpa secuilpun kesulitan. Lebih jauh lagi, mustahil bagi mereka untuk menganggap dua aktivitas dasar manusia itu sebagai dua hal yang terpisah, karena dalam praktek keduanya saling tergantung satu sama lain. Bahkan tindakan-tindakan yang paling sederhana, jika kita mengabaikan tindakan-tindakan yang didorong semata oleh insting biologis, membutuhkan pemikiran. Sampai tingkat tertentu, hal ini benar bukan hanya untuk manusia tapi juga untuk hewan, seperti ketika seekor kucing bersembunyi untuk menyergap sang tikus. Di tengah manusia, walau demikian, jenis pemikiran dan perencanaan yang dimilikinya memiliki karakter yang secara kualititatif lebih tinggi daripada segala aktivitas mental hewan lain, bahkan dari kera-kera yang paling maju sekalipun.
Fakta ini terkait erat dengan kapasitas berpikir abstrak, yang memungkinkan manusia untuk melampaui kondisi-kondisi mendesak yang dialaminya melalui indera-inderanya. Kita dapat menimbang situasi, bukan hanya yang terjadi di masa lalu (hewan juga memiliki ingatan, seperti seekor anjing yang mengkerut seketika ia melihat sebatang tongkat) tapi juga apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kita dapat mengantisipasi situasi yang kompleks, merencanakan, dan dengan demikian menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Termasuk, sampai titik tertentu, menentukan nasib kita sendiri. Sekalipun kita tidak biasanya berpikir tentang hal ini, sebenarnya ini adalah satu penaklukan mahabesar yang membedakan umat manusia dari lain-lain mahluk. "Apa yang khas dari cara berpikir manusia," ujar Professor Gordon Childe, "adalah bahwa cara itu menjelajah tempat yang luar biasa jauh dari situasi yang sedang dihadapi, dibandingkan apapun yang dapat dipikirkan hewan tentang hal itu."[i] Dari kemampuan ini, lahirlah segala jenis ciptaan peradaban, kebudayaan, kesenian, musik, literatur, ilmu pengetahun, filsafat dan agama. Kita juga menganggap wajar bahwa semua itu tidak jatuh dari langit, melainkan satu hasil dari pengembangan selama jutaan tahun.
Filsuf Yunani, Anaxagoras (500-428 SM), dalam sebuah deduksi yang gemilang, menyatakan bahwa perkembangan mental manusia tergantung dari terbebaskannya tangan. Dalam artikelnya yang penting, The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man, Engels menunjukkan dengan rinci cara yang ditempuh oleh transisi ini. Ia membuktikan bahwa posisi berdiri tegak, yang membebaskan tangan untuk kerja-kerja, bentuk tangan, dengan posisi ibu jari yang berseberangan dengan jari lainnya, yang memungkinkan tangan manusia menggenggam dengan erat, adalah prakondisi fisik yang dituntut untuk pembuatan alat-alat. Pembuatan alat ini, pada gilirannya, adalah perangsang utama untuk perkembangan otak manusia. Kemampuan bicara itu sendiri, yang tidak terpisahkan dari pemikiran, muncul dari kebutuhan untuk produksi sosial, kebutuhan untuk menjalankan berbagai fungsi kerja sama yang rumit. Teori-teori Engels ini telah dibuktikan secara mencolok oleh penemuan-penemuan terbaru dalam bidang paleontologi, yang menunjukkan bahwa kera-kera hominid muncul di Afrika jauh lebih dahulu dari apa yang diperkirakan sebelumnya, dan mereka memiliki otak yang jauh lebih kecil dari simpanse modern. Maka dapat dikatakan bahwa perkembangan otak muncul setelah dihasilkannya alat-alat batu, dan merupakan hasil dari proses penciptaan alat-alat itu. Jadi, tidaklah benar bahwa "Pada awalnya adalah Sabda," tapi seperti yang dikemukakan oleh penyair Jerman, Goethe - "Pada awalnya adalah Kerja."
Kemampuan untuk bergelut dengan pemikiran abstrak terkait erat dengan bahasa. Sejarawan ternama Gordon Childe menyatakan:
"Nalar, dan segala yang kita sebut berpikir, termasuk proses berpikir seekor simpanse, harus menyertakan satu operasi mental dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai citra. Satu citra visual, satu gambaran mental dari, katakanlah, sebuah pisang, selalu bergantung dari an akan sebuah pisang tertentu yang berada dalam sebuah lingkungan tertentu. sebuah kata, seperti yang telah dijelaskan, adalah lebih umum dan abstrak, setelah menyingkirkan kondisi-kondisi khusus yang membedakan satu pisang dengan pisang yang lain. Gambaran mental dari kata-kata (gambaran dari bunyi atau gerakan otot yang dibutuhkan untuk mengutarakannya) membentuk satu tanggapan yang merangsang proses berpikir. Berpikir dengan bantuan kata-kata, dengan demikian, mengandung persis kualitas abstraksi dan generalisasi yang tidak dimiliki oleh proses berpikir hewan. Manusia dapat berpikir, dan juga bicara, tentang kelas benda-benda yang dikenal sebagai 'pisang'; simpanse tidak pernah dapat berpikir lebih jauh dari 'pisang di dalam kantung yang itu'. Dengan cara ini, alat sosial yang dinamakan bahasa berperan serta dalam apa yang secara bombastis digambarkan sebagai 'emansipasi umat manusia dari keterikatan menuju kekongkritan'.
Manusia-manusia pertama, setelah jangka waktu yang panjang, membentuk ide umum tentang, katakanlah, sebatang tanaman atau seekor hewan. Ide ini tumbuh dari pengamatan kongkrit terhadap berbagai tanaman atau hewan. Tapi ketika kita tiba pada konsep umum "tanaman", kita tidak lagi melihat di hadapan kita tanaman ini atau itu secara khusus, tapi apa yang jamak menjadi sifat umum di antara mereka. Kita menyerap makna hakikat tanaman, keberadaannya yang paling mendasar. Bila dibandingkan dengan hakikat ini, ciri-ciri khusus dari tanaman tertentu dipandang sekunder dan tidak stabil. Apa yang selalu ada dan universal terkandung dalam pandangan umum tentang tanaman. Kita tidak akan pernah melihat "tanaman" seperti gambaran tertentu, seperti ketika kita menyebut satu jenis tanaman atau semak tertentu. Konsep itu adalah abstraksi yang dilakukan oleh nalar manusia. Namun demikian, abstraksi itu justru merupakan pernyataan yang lebih dalam dan lebih sejati tentang apa yang hakiki di dalam sifat tanaman setelah sifat-sifat yang sekunder dilucuti daripadanya.
Walau demikian, abstraksi dari manusia-manusia pertama masih jauh dari watak-watak ilmiah. Abstraksi itu adalah penjelajahan yang tentatif sifatnya, seperti kesan yang didapat anak-anak kecil - terkaan dan hipotesis, yang kadang keliru, tapi selalu berani dan imajinatif. Bagi nenek-moyang kita tempo dulu, matahari adalah satu mahluk agung yang kadang menghangatkan mereka, kadang membakar mereka. Bumi adalah seorang raksasa yang sedang tidur. Api adalah hewan buas yang menggigit mereka ketika mereka menyentuhnya. Manusia-manusia pertama mengamati kilat dan guntur. Kedua hal itu pasti menakutkan bagi mereka, seperti ketakutan yang masih dialami baik oleh hewan atau manusia sampai sekarang. Tapi, tidak seperti hewan, manusia mencari satu penjelasan umum atas gejala-gejala itu. Karena mereka tidak memiliki pengetahuan ilmiah, penjelasan itu niscaya akan berupa penjelasan yang supernatural - dewa-dewa tertentu, yang menghantam landasan tempa dengan palu godamnya. Bagi kita, penjelasan itu kelihatannya lucu, seperti penjelasan naif yang diberikan oleh anak-anak kecil. Walau demikian, pada masa itu, penjelasan-penjelasan itu adalah hipotesis yang sangat penting - satu upaya untuk menemukan satu sebab rasional dari gejala-gejala termaksud. Penting untuk manusia agar dapat membedakan antara berbagai pengalaman hidup yang dihadapinya, dan melihat sesuatu yang berdiri di luar pengalaman-pengalaman itu.
Bentuk yang paling berciri dari agama-agama pertama adalah animisme - pandangan bahwa segala hal, yang hidup maupun yang tidak hidup, memiliki roh. Kita melihat reaksi yang sama dari seorang anak kecil ketika ia, setelah terbentur pada sebuah meja, memukul meja itu. Dengan cara yang sama, manusia-manusia pertama, dan juga beberapa suku tertentu sampai sekarang, akan memohon maaf pada pohon-pohon sebelum mereka menebangnya. Animisme berjaya dalam satu masa ketika manusia masih belum terpisah jauh dari dunia hewan dan alam secara umum. Kedekatan manusia pada dunia hewan dibuktikan oleh kesegaran dan keindahan dari gambar-gambar gua, di mana kuda, kijang dan bison digambarkan dengan satu kealamian yang tidak akan pernah lagi dapat diguratkan oleh artis-artis modern. Masa itu adalah masa kecil dari peradaban manusia, yang telah pergi dan tak akan kembali. Kita hanya dapat membayangkan psikologi dari nenek-moyang jauh kita itu. Tapi, dengan menggabungkan penemuan-penemuan paleontologi dengan antropologi, dimungkinkan bagi kita untuk merekonstruksi, setidaknya secara garis besar, dunia yang telah memunculkan peradaban umat manusia itu.
Dalam studi antropologi klasiknya tentang asal-usul sihir dan agama, Sir James Frazer menulis:
"Seorang barbar hampir sama sekali tidak membuat pembedaan yang biasanya dibuat oleh orang-orang yang lebih maju antara apa yang natural dan yang supernatural. Baginya, dunia ini secara umum digerakkan oleh unsur-unsur supernatural, yaitu, oleh mahluk-mahluk yang digambarkan mirip manusia, yang bekerja dengan dorongan impuls dan motif seperti yang dimilikinya, seperti dirinya juga tergerak oleh belas kasihan dan permohonan-permohonan, harapan dan juga ketakutan. Dalam sebuah dunia yang digambarkan seperti itu, ia tidak melihat batasan bagi kekuatan ini untuk mempengaruhi jalannya alam bagi keuntungannya sendiri. Doa-doa, janji-janji, atau ancaman-ancaman dapat menjaminkan baginya cuaca yang baik dan panen yang melimpah sebagai berkat dewata; dan jika dewa-dewa sampai menitis ke dalam dirinya, seperti yang kadang dipercaya demikian, maka ia tidak lagi perlu memohon pada sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya; ia, orang barbar itu, memiliki di dalam dirinya seluruh kekuatan yang diperlukan untuk memajukan kesejahteraannya sendiri maupun bagi sesamanya.
Pandangan bahwa jiwa hadir terpisah dan tersendiri dari tubuh diwariskan dari masa paling lampau dari jaman kebiadaban. Basis untuk pandangan itu sangatlah jelas. Ketika kita tidur, jiwa nampak meninggalkan tubuh dan mengembara di dalam mimpi. Jika pandangan ini dikembangkan lebih jauh, kemiripan antara kematian dan tidur ("saudara kembar dari Kematian", seperti kata Shakespeare) menimbulkan ide bahwa jiwa akan terus hadir sesudah kematian. Maka manusia-manusia pertama menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu di dalam tubuh yang terpisah dari tubuh itu sendiri. Inilah jiwa, yang menguasai tubuh, dan dapat melakukan segala macam hal yang luar biasa, bahkan ketika tubuh sedang tertidur. Mereka juga mengamati bagaimana sabda-sabda kebijaksanaan diucapkan oleh para tetua, dan menyimpulkan bahwa, sekalipun tubuh mati, jiwa akan terus hidup. Bagi orang-orang yang terbiasa dengan ide-ide tentang migrasi, kematian dilihat sebagai migrasi jiwa, yang membutuhkan makanan dan peralatan lain untuk perjalanannya.
Pada awalnya, roh tidak memiliki kediaman tertentu. Mereka hanya mengembara, biasanya membuat kekacauan, yang memaksa semua yang hidup untuk menempuh berbagai kesulitan untuk menenangkan roh-roh itu. Di sini kita mendapati asal-usul upacara-upacara keagamaan. Pada akhirnya, muncullah satu ide bahwa kita dapat memohon pula bantuan dari para roh melalui doa-doa. Pada tingkatan ini, agama (sihir), seni dan ilmu tidak dibedakan satu sama lain. Karena mereka tidak memiliki alat untuk benar-benar mengendalikan lingkungan mereka, manusia-manusia pertama mencoba menundukkan lingkungan itu melalui penyatuan sihir dengan alam. Sikap manusia-manusia pertama terhadap dewa-dewa dan pemujaan-pemujaan agaknya praktis. Doa-doa ditujukan untuk mendapatkan hasil. Seseorang akan membuat gambar dengan tangannya lalu berlutut menyembah gambar itu. Tapi jika tindakan itu tidak membawa hasil ia akan mengutuk gambar itu dan menginjak-injaknya. Jika permohonan tidak membawa hasil ia akan menggunakan kekerasan. Dalam dunia aneh yang penuh dengan hantu dan mimpi ini, dunia agamawi ini, pemikiran-pemikiran primitif melihat segala peristiwa sebagai karya dari roh yang tak kasat mata. Tiap semak dan aliran sungai dilihat sebagai mahluk yang hidup, yang bersahabat atau bermusuhan. Tiap kejadian, tiap mimpi, rasa sakit atau sensasi, disebabkan oleh roh. Penjelasan religius mengisi kekosongan yang disebabkan tiadanya penjelasan yang ilmiah tentang hukum-hukum alam. Bahkan kematian tidak dilihat sebagai satu kejadian yang alami, melainkan sebagai satu akibat dari pelanggaran-pelanggaran tertentu terhadap perintah dewata.
Selama sebagian besar masa keberadaan umat manusia, pikiran manusia terisi penuh dengan hal-hal semacam ini. Dan bukan hanya dalam apa yang dianggap orang sebagai masyarakat primitif. Jenis tahyul yang sama terus hadir dalam kedok yang agak berbeda saat ini. Di bawah tabir tipis peradaban merunduklah satu kecenderungan dan ide-ide irasional primitif yang memiliki akar jauh di masa lalu, masa-masa yang telah lama terlupakan tapi belum sepenuhnya ditinggalkan. Dan juga tidak akan sepenuhnya dapat ditinggalkan selama umat manusia masih belum berhasil menegakkan kendali sepenuhnya atas kondisi kehidupannya sendiri.
Pembagian Kerja
Frazer menunjukkan bahwa pembagian antara kerja-kerja fisik dan mental dalam masyarakat primitif, mau tidak mau, terkait kepada pembentukan kasta pendeta, shaman (dukun) atau tukang sihir.
"Kemajuan sosial, seperti yang kita tahu, terutama terdiri dari berbagai pengkhususan fungsi yang terjadi berturutan, atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, pembagian kerja. Kerja-kerja yang dalam masyarakat primitif dikerjakan oleh semua orang tanpa kecuali, termasuk oleh orang-orang yang tidak sanggup mengerjakan pekerjaan itu, semakin hari semakin dibagi ke dalam berbagai kelas pekerja dan dikerjakan dengan semakin sempurna; jadi, selama hasil kerja terspesialisasi itu, baik yang material atau imaterial, dimiliki bersama oleh semua orang, keseluruhan masyarakat masih akan terus mendapat keuntungan yang semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya spesialisasi. Kini, para tukang sihir dan dukun kelihatannya menyusun kelas artifisial atau profesional pertama dalam evolusi masyarakat. Karena para tukang sihir itu ditemui di berbagai suku primitif yang masih kita kenal saat ini; dan di antara masyarakat yang paling primitif, seperti aborigin Australia, merekalah satu-satunya kelas profesional yang ada.
Dualisme yang memisahkan jiwa dari tubuh, nalar dari materi, pikiran dari perbuatan, mendapat impuls yang maha kuat dari perkembangan pembagian kerja dalam tahap tertentu dari evolusi sosial. Pemisahan antara kerja-kerja fisik dan mental adalah satu gejala yang terjadi berbarengan dengan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas. Hal itu menandai kemajuan besar dalam perkembangan umat manusia. Untuk pertama kalinya sekelompok kecil orang dalam masyarakat terbebaskan dari keharusan untuk bekerja agar dapat memperoleh apa-apa yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup. Kepemilikan dari komoditas yang paling mahal harganya itu - waktu luang - berarti bahwa orang dapat mengabdikan hidupnya kepada studi mengenai bintang-bintang. Seperti yang diterangkan oleh Ludwig Feuerbach, filsuf materialis Jerman itu, ilmu pengetahuan teoritik dimulai dengan astrologi:
"Hewan hanya dapat memahami berkas-berkas sinar yang langsung mempengaruhi kehidupannya; sementara manusia memberi tanggapan terhadap berkas-berkas sinar, yang sebenarnya tidak berbeda satu sama lain secara fisik, yang datang dari bintang-bintang. Hanya Manusia yang memiliki kegembiraan dan gairah yang murni intelektual dan tanpa kepentingan; hanya mata manusia yang dapat menangkap festival-festival teoritik. Mata yang menjelajah langit berbintang, yang menantap sinar dari mereka, yang tidak mengandung kegunaan maupun bahaya, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan segala yang di bumi dan apa yang dibutuhkan di sini - mata ini melihat dalam berkas-berkas sinar itu karakternya sendiri, asal-usulnya sendiri. Mata itu dari sifat dasarnya terikat pada langit. Dengan demikian manusia mengangkat dirinya terbang di atas bumi hanya dengan menggunakan matanya; dengan demikian teori dimulai dengan perenungan atas langit. Para filsuf yang pertama adalah para ahli perbintangan.
Sekalipun pada tahap awalnya ini teori masih tercampur-aduk dengan agama, dan kebutuhan dan kepentingan dari satu kasta pendeta, perkembangan ini juga menandai kelahiran peradaban manusia. Hal ini telah disadari oleh Aristoteles, yang menulis:
"Seni teoritik ini, lebih jauh lagi, diperkembangkan di tempat-tempat di mana manusia memiliki banyak waktu luang: matematika, contohnya, berasal dari Mesir, di mana satu kasta pendeta menikmati waktu luang yang dibutuhkan untuk memperkembangkannya.
Pengetahuan adalah sumber kekuatan. Di masyarakat manapun di mana seni, ilmu pengetahuan dan pemerintahan dimonopoli oleh segelintir orang, kaum minoritas itu akan terus menggunakan dan menyalahgunakan kekuasaan di tangannya itu demi kepentingannya sendiri. Meluapnya sungai Nil adalah persoalan hidup-mati bagi banyak orang, yang hasil panennya bergantung dari tingkat luapan sungai itu. Kemampuan para pendeta Mesir untuk meramalkan, berdasarkan pengamatan atas bintang-bintang, tentang kapan sungai Nil akan meluap pasti telah mengangkat tinggi prestise dan kekuasaan yang mereka nikmati di dalam masyarakat. Seni menulis, penemuan yang paling dahsyat itu, adalah satu rahasia yang dijaga maha ketat oleh kasta pendeta. Seperti yang menjadi komentar Ilya Prigogine dan Isabelle Stenger:
"Orang-orang Sumeria menemukan tulisan; para pendeta Sumeria berspekulasi bahwa masa depan mungkin tertulis dengan cara-cara rahasia dalam urutan terjadinya peristiwa-peristiwa pada masa kini. Mereka bahkan mensistematisir kepercayaan itu, mencampurkan baik unsur-unsur sihir maupun rasional.
Pengembangan lebih jauh atas pembagian kerja menimbulkan jurang yang tak terseberangi antara kaum elit intelektual dan mayoritas umat manusia, yang dikutuk untuk bekerja sepanjang hidup dengan kedua tangannya. Kaum intelektual, baik para pendeta Babilonia maupun para teoritisi fisika di jaman modern ini, hanya mengenal satu jenis pekerjaan, kerja mental. Setelah melalui puluhan milenia, superioritas kerja mental atas kerja fisik yang "kasar" menjadi semakin terukir dan akhirnya membangun semacam kekuatan prasangka. Bahasa, kata-kata dan pemikiran akhirnya memperoleh berkah kekuatan mistis. Kebudayaan menjadi monopoli dari kaum elit yang teristimewakan, yang dengan maha ketat menjaga rahasia mereka, dan menggunakan dan menyalahgunakan posisi mereka demi kepentingan mereka sendiri.
Di masa lalu, aristokrasi intelektual tidak berupaya untuk menyembunyikan kejijikan mereka akan kerja-kerja fisik. Kutipan berikut berasal dari teks Mesir yang dikenal sebagai The Satire on the Traders, yang ditulis sekitar tahun 2000 SM dan diperkirakan berisi nasehat dari seorang ayah kepada anaknya, yang ia kirim ke Sekolah Menulis untuk berlatih menjadi seorang juru tulis:
"Saya telah melihat bagaimana seorang pekerja kasar disuruh untuk bekerja kasar - kamu harus mengeraskan hati kamu dalam mempelajari tulisan. Dan saya telah mengamati bagaimana seseorang dapat menghindari pekerjaannya [sic!] - lihatlah, tidak sesuatupun yang dapat melebihi tulisan....
"Saya telah melihat bagaimana seorang pandai besi bekerja di depan mulut tungku apinya. Jari-jarinya menjadi mirip jari-jari buaya; batu tubuhnya melebihi bau seekor ikan busuk....
"Seorang kuli pembangun rumah mengusung lumpur.... Ia lebih kotor dari seorang gelandangan atau babi karena ia mengarungi lumpur. Bajunya kaku karena dilumuri tanah liat....
"Para pembuat anak panah, kasihan sekali nasibnya ketika ia harus berjalan mengarungi padang pasir [untuk mencari batu-batu tajam]. Lebih agung apa yang ia berikan pada keledainya daripada apa yang setelah itu dikerjakannya ...
"Para pencuci pakaian mencuci di tepi sungai, bertetangga dengan buaya....
"Lihatlah, tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki majikan - kecuali para juru tulis: ia adalah majikan....
"Lihatlah, tidak ada juru tulis yang kekurangan makan dari harta Istana Para Raja - kehidupan, kemakmuran, kesehatan! ... Ayah dan ibunya memuja para dewa, ia dibebaskan dari keharusan mencari penghidupan. Lihatlah hal-hal ini - saya [telah menguraikannya] di hadapanmu dan anak-cucumu.
Sikap yang sama berkembang pula di tengah orang-orang Yunani:
"Apa yang disebut seni mekanik," kata Xenophon, "menanggung satu stigma sosial yang dengan tepat dicela di tengah kota-kota kita, karena seni semacam ini merusak tubuh dari mereka yang bekerja di dalamnya atau yang bekerja sebagai mandornya, karena kerja-kerja ini mengutuk mereka ke dalam hidup yang terikat dan kepada kehidupan rumahan dan, pada beberapa kasus, untuk menghabiskan seluruh hari di depan tungku-tungku api. Pembusukan fisik itu menghasilkan pula pembusukan dalam jiwa. Lebih jauh lagi, para pekerja dalam bidang-bidang ini tidak akan pernah memiliki waktu untuk menjalankan kerja-kerja pemerintahan atau perkawanan. Sebagai akibatnya mereka dilihat sebagai kawan yang buruk atau warga negara yang buruk, dan di beberapa kota, terutama yang gemar berperang, adalah hal yang ilegal bagi seorang warga negara untuk terlibat dalam kerja-kerja mekanik.
Perceraian radikal antara kerja-kerja mental dan fisik memperdalam ilusi bahwa ide, pemikiran dan kata-kata memiliki keberadaan yang mandiri. Pandangan yang keliru ini terpancang dalam jantung semua agama dan filsafat idealisme.
Bukanlah dewa yang menciptakan manusia seturut citranya, tapi, sebaliknya, manusialah yang menciptakan dewa-dewa sesuai dengan citra dan keinginan mereka. Ludwig Feuerbach pernah berkata bahwa jika burung memiliki agama, Tuhan mereka akan bersayap. "Agama adalah sebuah mimpi, di mana pandangan dan emosi kita muncul di hadapan kita sebagai satu keberadaan yang mandiri, yang hadir di luar diri kita. Pemikiran religius tidaklah membedakan mana yang subjektif, mana yang objektif - pemikiran itu tidak memiliki keraguan; ia memiliki berkah, bukan dalam kemampuan memahami hal-hal lain di luar dirinya, tapi dalam melihat dirinya sesuai pandangannya sendiri sebagai satu keberadaan yang khusus dan istimewa."[x] Hal ini juga dipahami oleh orang-orang semacam Xenophanes dari Colophon (565-c.470 SM), yang menulis "Homer dan Hesiod telah membebankan pada para dewa setiap tindakan yang memalukan dan tidak terhormat di kalangan manusia: pencurian dan perjinahan dan penipuan satu di antara yang lain... Orang-orang Ethiopia membuat dewa-dewa mereka berkulit hitam dan berhidung pesek, dan orang-orang Thracia membuat dewa-dewa mereka bermata pucat dan berambut merah.... Jika hewan dapat melukis dan menciptakan benda-benda, kuda-kuda dan sapi-sapi juga akan membuat dewa-dewa mereka sesuai dengan citra mereka sendiri.
Mitos tentang Penciptaan yang hidup di dalam hampir setiap agama selalu mengambil kisahnya dari kehidupan sehari-hari, contohnya, citra seorang tukang keramik yang "menghidupkan" seonggok tanah liat tak berbentuk. Menurut pendapat Gordon Childe, kisah Penciptaan dalam buku pertama Kejadian mencerminkan fakta bahwa, di Mesopotamia daratan memang terpisah dari lautan "pada Awal Jaman," tapi bukan oleh sebuah karya ilahi:
"Daratan di mana kota-kota Babilonia yang agung itu didirikan telah secara harafiah diciptakan; pendahulu pra-sejarah dari Erech yang tercantum di kitab-kitab suci mereka didirikan di atas semacam platform dari jerami, yang disusun silang-menyilang di atas gundukan lumpur aluvial. Buku Kejadian kaum Yahudi telah mengakrabkan kita dengan tradisi yang jauh lebih tua dari kondisi alami orang-orang Sumeria - satu keadaan 'chaos' di mana batas antara air dan tanah kering masih terus maju-mundur. Satu insiden yang esensial dalam "Penciptaan" adalah pemisahan dari unsur-unsur ini. Walau demikian, bukanlah para dewa, melainkan orang-orang Sumeria sendirilah yang menciptakan daratan; mereka menggali saluran-saluran untuk mengairi ladang dan mengeringkan rawa; mereka membuat parit-parit dan gundukan-gundukan untuk melindungi manusia dan ternak dari air dan menghindari banjir; mereka membuka rawa-rawa ganggang dan menjelajah daratan di antara rawa-rawa itu. Kemampuan bertahan yang membuat ingatan akan perjuangan ini terus hidup dalam tradisi Sumeria adalah satu ukuran akan beratnya perjuangan yang dihadapi oleh orang-orang Sumeria kuno. Imbalan bagi mereka adalah satu jaminan akan pasokan bahan makanan bergizi, panen yang melimpah dari ladang yang telah mereka rebut dari air, dan ladang penggembalaan yang subur bagi ternak dan piaraan mereka.
Upaya pertama Manusia untuk menjelaskan dunia ini dan posisinya di dalamnya bercampur aduk dengan mitologi. Orang-orang Babilonia percaya bahwa dewa Marduk menciptakan Keteraturan dari Kekacauan, memisahkan daratan dari air, langit dari bumi. Mitos Penciptaan biblikal ini diambil-alih oleh orang Yahudi dari tangan orang Babilonia, dan di kemudian hari jatuh ke tangan orang Kristen. Sejarah sejati dari pemikiran ilmiah dimulai ketika orang-orang mulai menyingkirkan mitologi, dan mencoba untuk memperoleh satu pemahaman yang rasional atas alam, tanpa campur-tangan dewa-dewa. Baru setelah itulah, perjuangan sejati untuk emansipasi umat manusia dari belenggu-belenggu material dan spiritual dapat dimulai.
Munculnya filsafat merupakan wakil satu revolusi sejati dalam pemikiran manusia. seperti kebanyakan peradaban modern, kita berhutang budi pada orang-orang Yunani kuno untuk hal itu. Walaupun kemajuan-kemajuan besar dicapai pula oleh orang-orang India dan Tiongkok, dan juga kemudian orang-orang Arab, orang-orang Yunanilah yang mengembangkan filsafat dan ilmu pengetahuan sampai tingkatan yang tertinggi sebelum terjadinya Renaisans (Jaman Pencerahan). Sejarah pemikiran Yunani dalam masa empat ratus tahun, sejak pertengahan abad ke-7 SM, mengandung satu dari bagian-bagian yang terpenting dalam kitab sejarah umat manusia.
Read More - Apakah Kita Membutuhkan Filsafat ?
Alam organik tumbuh dari alam tak hidup; alam yang hidup menghasilkan satu bentuk yang sanggup membuat pemikiran. Pertama-tama, kita memiliki materi, yang tidak dapat berpikir; dari mana tumbuh materi yang dapat berpikir, manusia. Jika memang ini yang terjadi - dan kita tahu bahwa demikianlah halnya, dari ilmu alam - jelaslah bahwa materi adalah ibu dari pikiran; bukan pikiran yang menjadi ibu dari materi. Anak-anak tidak pernah lebih tua dari orang tua mereka.
'Pikiran' datang belakangan, dan maka dari itu kita harus menganggapnya sebagai keturunan, dan bukan orang tua ... materi ada sebelum munculnya manusia yang berpikir; bumi ada jauh sebelum munculnya 'pikiran' apapun di permukaannya. Dengan kata lain, materi ada secara objektif, tidak tergantung dari 'pikiran'. Tapi gejala-gejala fisik, yang disebut 'pikiran' itu, tidak pernah dan tidak akan hadir tanpa materi. Pikiran tidak ada tanpa otak; nafsu adalah mustahil tanpa ada organisme yang memiliki nafsu itu .... Dengan kata lain; gejala fisik, gejala kesadaran, adalah sekedar ciri dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu, satu 'fungsi' dari materi semacam itu." (Nikolai Bukharin)
"Interpretasi atas mekanisme otak merupakan satu dari misteri biologis yang terakhir, tempat pengungsian terakhir dari mistisme gelap dan filsafat religius yang penuh spekulasi." (Steven Rose)
Selama berabad-abad, seperti yang telah kita lihat, isu sentral dari filsafat adalah pernyataan tentang hubungan antara pikiran dan keberadaan. Kini, setelah menunggu begitu lama, langkah-langkah besar yang telah dibuat oleh ilmu pengetahuan mulai menyingkap sifat sejati dari pikiran dan bagaimana ia bekerja. Kemajuan-kemajuan ini menyediakan konfirmasi yang tegas terhadap cara pandang materialis. Hal ini demikian halnya terutama berkaitan dengan kontroversi antara otak dan neurobiologi. Tempat persembunyian terakhir bagi mistisisme kini tengah digempur habis-habisan, walau itu juga tidak dapat mencegah para idealis untuk melancarkan aksi-aksi garis belakang yang keras kepala, seperti yang ditunjukkan kutipan di bawah ini:
"Ketika menjadi mustahil untuk menyelidiki unsur-unsur non-material dari penciptaan ini, banyak orang kemudian mengabaikannya. Mereka berpikir bahwa hanya materilah yang riil. Maka pemikiran kita yang terdalam sekalipun harus direduksi menjadi bukan apa-apa selain hasil dari sel-sel otak yang bekerja menurut hukum-hukum kimia. ... Kita boleh menelaah respon elektrik otak yang mengiringi pikiran, tapi kita tidak dapat mereduksi Plato menjadi sekedar denyutan syaraf, atau Aristoteles menjadi sekedar gelombang alpha. ... Penggambaran tentang pergerakan fisik tidak akan pernah menyingkapkan makna pergerakan itu sendiri. Biologi hanya dapat menyelidiki dunia neuron dan sinapsis yang saling mengunci satu sama lain itu."[i]
Apa yang kita sebut "pikiran" adalah sekedar cara mengada dari otak. Tentu ini adalah satu gejala yang teramat rumit dan penuh komplikasi, hasil dari berjuta tahun evolusi. Kesulitan dalam menganalisa proses kompleks yang terjadi dalam otak dan sistem syaraf, dan kesalingterhubungan yang sama kompleksnya antara proses mental dan lingkungannya, bermakna bahwa pemahaman yang tepat atas sifat pikiran telah tertunda selama berabad-abad. Penundaan ini telah memungkinkan para idealis dan teolog untuk berspekulasi tentang sifat mistis dari apa yang mereka sebut "jiwa", yang dipandang sebagai sebuah zat non-material yang diijinkan untuk mengambil tempat sementara di dalam tubuh. Kemajuan neurobiologi modern berarti bahwa kaum idealis akhirnya mulai benar-benar diusir dari tempat pengungsian terakhir mereka. Sejalan dengan semakin terbukanya rahasia-rahasia di balik otak dan sistem syaraf, semakin mudahlah untuk menjelaskan pikiran, tanpa harus menyandarkan diri pada agen-agen supernatural, sebagai jumlah total dari aktivitas otak.
Mengutip ahli neurobiologi Steven Rose, pikiran dan kesadaran adalah
"... konsekuensi yang niscaya dari evolusi struktur otak tertentu yang berkembang dalam serangkaian perubahan evolusioner dalam yang ditempuh oleh kemunculan umat manusia ... kesadaran adalah satu konsekuensi dari evolusi dari satu tingkatan kompleksitas dan derajat interaksi tertentu di antara sel-sel syaraf (neuron) dari vorteks serebral, sementara bentuk yang diambilnya telah dimodifikasi secara mendasar bagi tiap otak individual oleh perkembangannya dalam hubungannya dengan lingkungannya
Read More - Teka-teki Tentang Otak

Berlangganan Artikel

Tulis Email Anda Disini:

FeedBurner

Search

Memuat...
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Dunia Filsafat
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Join

Site Info

Add to Google Reader or Homepage
Google Pagerank Powered by  MyPagerank.Net Subscribe in Bloglines